
Terdapat dua jenis utama kerusakan pada perkerasan jalan :
1. Kerusakan lapis permukaan yang berkaitan langsung pada lapisan lapisan bawah atau lapis pondasi atas. Kerusakan pada lapisan-lapisan bawah ini sering kali terjadi sebagai akibat drainase yang tidak memadai.
2. Kerusakan yang semata mata terjadi pada lapis permukaan jalan, terlepas dari kondisi lapisan-lapisan dibawahnya
Berikut ini merupakan uraian ringkas mengenai kerusakan kerusakan jenis ini, yang disetai dengan catatan catatan praktis yang perlu dipandang.
2. Kerusakan yang semata mata terjadi pada lapis permukaan jalan, terlepas dari kondisi lapisan-lapisan dibawahnya
Berikut ini merupakan uraian ringkas mengenai kerusakan kerusakan jenis ini, yang disetai dengan catatan catatan praktis yang perlu dipandang.
A. KERUSAKAN LAPIS PERMUKAAN YANG BERKAITAN LANGSUNG PADA LAPISAN LAPISAN DI BAWAHNYA.
1. Kerusakan Lapis Perkerasan yang disebabkan oleh Tanah Dasar yang mempunyai Kembang susut besar.
Sebagian besar jalan jalan kecil yang berawal atau berakhir pada jalan raya ini mengalami berbagai tinkgkatan kerusakan perkerasan sebagai akibat tanah dasar yang mudah mengembang.
Modus kerusakan yang terjadi adalah perubahan bentuk permukaan yang khas dan besar secara naik turun, dan apabila pada musim kemarau disertai retak akibat tegangan tarik. Apabila kerusakan ini telah dimulai maka hamper dipastikan akan terjadi berbagai proses kerusakan lanjutan.
*) kerusakan ini merupakan persoalan perencananaan dan merupakan bahan penelitian.
2. Kerusakan perkerasan yang disebabkan oleh drainase yang tidak memadai.
Drainase permukaan ataupun bawah permukaan biasanya merupakan factor utama yang menyebabkan kerusakan struktur perkerasan. Suatu tanah dasar yang pada musim kemarau mempunyai kondisi yang sangat baik, apabila menjadi jenuh maka sangat lunak dan selanjutnya akan mengakibatka perubahan bentuk/amblas pada pondasi bawah dan kemudain akibat lalulintas akan menimbulkan kehancuran pada pondasi atas dan lapisan permukaan. Badan jalan haruslah dibangun dengan kemiringan melintang yang cukup sehingga air cepat terbuang, tidak saja dari jalur lalu lintas tetapi juga sama pentingnya adalah ketika melintasi bahu agar dapat masuk kedalam saluran samping yang harus mempunyai kedalaman dibawah permukaan tanah dasar. Selanjutnya saluran samping harus ditunjang dengan saluran pembuang dan gorong gorong sehingga air yang dibawahnya dapat cepat terbuang tanpa hambatan. Penyebab yang paling sering ditemui pada kasus kerusakan ini adalah terjadinya penggenangan air pada tepi jalur lalu lintas, yaitu sebagai akibat permukaan bahu yan tinggi atau saluran samping yang jelek atau kombinasi keduannya. Dengan adanya penggenangan ini maka air menyisip kedalam bidang pertemuan bahu dan perkerasan sehingga menurunkan daya dukung tanah dasar dan tepi perkerasan amblas dan akibat lalu lintas akan hancur.
Berikut garis besat spesifikasi saluran samping :
- Bentuk saluran dibuat trapezium dengan ukuran minimum 135x45x45cm dengan lereng 1:1
- Saluran samping dibangun sejajar dengan jalur lalu lintas, diluar bahu jalan. Dasar saluran minimal 65 cm dibawah permukaan jalan, dan kemiringan biasanya dibuat mengikuti arah pembuangan air.
- Kemiringan arah memanjang saluran samping, dibuat antara 0,67% - 5% (tergantung debit, jenis bahan/tanah, dan lain sebagainya). Bila kemirngan >5% diperlukan pasangan batu untuk mencegah erosi, atau dengan saluran kaskade (bertangga- tangga).
- Besar kecilnya biaya pemeliharaan tergantung dari kecepatan air yang melalui selokan yang bersangkutan. Bila kecepatan air >0,5 m/detik biasanya air sudah mulai menggerus dasar saluran
- Kecepatan aliran yang diizinkan dalam suatu pada :
Pasangan Batu dengan adukan semen 1,50 m/det
Beton dengan permukaan halus atau sedang 1,50 m/det
- Jarak sisi luar selokan dengan kaki talud minimal 50 cm, agar longsoran lereng galian tidak menutup selokan
- Bentuk saluran samping antara lain :
a. Penampang segi tiga aelokan berbentuk V
b. Penampang trapezium
- Disarankan pada penampang trapezium lebar atas = 3 x lebar dasar
3. Kerusakan perkerasan yang disebabkan oleh tebal tebal perkerasan yang tidak cukup.
Kasus ini merupakan persoalan perencanan. Rencana tebal harus diperiksa kembali dab harus didasarkan pada nilai CBR tanah dasar. Di Indonesia, nilai CBR dapat ditentukan secara cepat dengan menggunakan Dynamic Cone Penetrometer (DCP).Survey CBR dengan menggunakan DCP. Untuk mencapai tanah dasar, terlebih dahulu perkerasan harus dibongkar. Perhatikan penanganan air pada bahu yang disebabkan oleh drainase yang tidak memadai, penyebab utama terjadinya kerusakan perkerasan.
Sebagian besar jalan jalan kecil yang berawal atau berakhir pada jalan raya ini mengalami berbagai tinkgkatan kerusakan perkerasan sebagai akibat tanah dasar yang mudah mengembang.
Modus kerusakan yang terjadi adalah perubahan bentuk permukaan yang khas dan besar secara naik turun, dan apabila pada musim kemarau disertai retak akibat tegangan tarik. Apabila kerusakan ini telah dimulai maka hamper dipastikan akan terjadi berbagai proses kerusakan lanjutan.
*) kerusakan ini merupakan persoalan perencananaan dan merupakan bahan penelitian.
2. Kerusakan perkerasan yang disebabkan oleh drainase yang tidak memadai.
Drainase permukaan ataupun bawah permukaan biasanya merupakan factor utama yang menyebabkan kerusakan struktur perkerasan. Suatu tanah dasar yang pada musim kemarau mempunyai kondisi yang sangat baik, apabila menjadi jenuh maka sangat lunak dan selanjutnya akan mengakibatka perubahan bentuk/amblas pada pondasi bawah dan kemudain akibat lalulintas akan menimbulkan kehancuran pada pondasi atas dan lapisan permukaan. Badan jalan haruslah dibangun dengan kemiringan melintang yang cukup sehingga air cepat terbuang, tidak saja dari jalur lalu lintas tetapi juga sama pentingnya adalah ketika melintasi bahu agar dapat masuk kedalam saluran samping yang harus mempunyai kedalaman dibawah permukaan tanah dasar. Selanjutnya saluran samping harus ditunjang dengan saluran pembuang dan gorong gorong sehingga air yang dibawahnya dapat cepat terbuang tanpa hambatan. Penyebab yang paling sering ditemui pada kasus kerusakan ini adalah terjadinya penggenangan air pada tepi jalur lalu lintas, yaitu sebagai akibat permukaan bahu yan tinggi atau saluran samping yang jelek atau kombinasi keduannya. Dengan adanya penggenangan ini maka air menyisip kedalam bidang pertemuan bahu dan perkerasan sehingga menurunkan daya dukung tanah dasar dan tepi perkerasan amblas dan akibat lalu lintas akan hancur.
Berikut garis besat spesifikasi saluran samping :
- Bentuk saluran dibuat trapezium dengan ukuran minimum 135x45x45cm dengan lereng 1:1
- Saluran samping dibangun sejajar dengan jalur lalu lintas, diluar bahu jalan. Dasar saluran minimal 65 cm dibawah permukaan jalan, dan kemiringan biasanya dibuat mengikuti arah pembuangan air.
- Kemiringan arah memanjang saluran samping, dibuat antara 0,67% - 5% (tergantung debit, jenis bahan/tanah, dan lain sebagainya). Bila kemirngan >5% diperlukan pasangan batu untuk mencegah erosi, atau dengan saluran kaskade (bertangga- tangga).
- Besar kecilnya biaya pemeliharaan tergantung dari kecepatan air yang melalui selokan yang bersangkutan. Bila kecepatan air >0,5 m/detik biasanya air sudah mulai menggerus dasar saluran
- Kecepatan aliran yang diizinkan dalam suatu pada :
Pasangan Batu dengan adukan semen 1,50 m/det
Beton dengan permukaan halus atau sedang 1,50 m/det
- Jarak sisi luar selokan dengan kaki talud minimal 50 cm, agar longsoran lereng galian tidak menutup selokan
- Bentuk saluran samping antara lain :
a. Penampang segi tiga aelokan berbentuk V
b. Penampang trapezium
- Disarankan pada penampang trapezium lebar atas = 3 x lebar dasar
3. Kerusakan perkerasan yang disebabkan oleh tebal tebal perkerasan yang tidak cukup.
Kasus ini merupakan persoalan perencanan. Rencana tebal harus diperiksa kembali dab harus didasarkan pada nilai CBR tanah dasar. Di Indonesia, nilai CBR dapat ditentukan secara cepat dengan menggunakan Dynamic Cone Penetrometer (DCP).Survey CBR dengan menggunakan DCP. Untuk mencapai tanah dasar, terlebih dahulu perkerasan harus dibongkar. Perhatikan penanganan air pada bahu yang disebabkan oleh drainase yang tidak memadai, penyebab utama terjadinya kerusakan perkerasan.
Sumber : Pelaksanaan Konstruksi Jalan Raya, disusun oleh Ir. Agus Iqbal M, Dipl, H. Eng. MIHT
Buat bagian “B. Kerusakan yang semata mata terjadi pada lapis permukaan jalan, terlepas dari kondisi lapisan-lapisan dibawahnya.” dilanjut di lain waktu. Dah ngantuk berat soalnya..hehehehe
n satu lagi, Buat yang mau Tanya – Tanya ato mau nambahin, langsung di koment aj oukeh!!!
n satu lagi, Buat yang mau Tanya – Tanya ato mau nambahin, langsung di koment aj oukeh!!!
No comments:
Post a Comment